Peran Pelajar dalam Kebangkitan Nasional

Posted by & filed under Headlines, News.

harkitnas hari kebangkitan nasional 2013

Seratus lima tahun yang lalu tepat pada hari ini, lahirlah sebuah organisasi yang menjadi pelopor organisasi-organisasi kebangsaan, yakni Boedi Oetomo. Boedi Oetomo didirikan pada tanggal 20 Mei 1908 oleh Dr. Sutomo dan para mahasiswa STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen) yaitu Goenawan Mangoenkoesoemo dan Soeraji serta digagas oleh Dr. Wahidin Sudirohusodo, menjadi cikal bakal perlawanan terhadap kolonialisme penjajah melalui rasa persatuan dan kesatuan. Semangat yang dicetuskan Dr. Sutomo dkk. tersebut dikenal juga dengan terbitnya kebangkitan nasional. Kebangkitan nasional merupakan peristiwa bangkitnya semangat persatuan, kesatuan dan nasionalisme diikuti dengan kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia. Rasa kebangsaan timbul dari kebangkitan nasional, bangkit dari keterpurukan, bangkit dari ketertinggalan, bangkit dari ketidakadilan, bangkit dari kemiskinan dan kebodohan. Dikarenakan besarnya peran Boedi Oetomo terhadap kebangkitan nasional maka tanggal lahirnya Boedi Oetomo, 20 Mei 1908, diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas).

Lalu buat apa kebangkitan nasional sekarang? Bukankah Indonesia sudah merdeka dari penjajahan kolonial? Namun perhatikan lagi secara seksama, sebagai pelajar yang sedang melanjutkan belajar di luar negeri dan memantau perkembangan bangsa melalui berbagai macam media elektronik, semua pemberitaan mengenai Indonesia selalu saja diwarnai konflik pertikaian. Indonesia merupakan negara yang unik, negara kepulauan terbesar di dunia, berisikan berbagai suku, bahasa dan agama. Banyaknya perbedaan tersebut jika tidak ada rasa persatuan dan kesatuan kebangsaan maka mudah untuk diprovokasi. Pertikaian antar agama, konflik antar suku, tawuran pelajar hingga pertarungan elit-elit politik yang mementingkan individu atau golongan tertentu sudah menjadi makanan sehari-hari media massa. Bahkan konflik-konflik tersebut merupakan bahan komoditi paling laku untuk dijual.  Pemberitaan mengenai kemajuan bangsa bagaikan matahari yang tertutupi awan mendung, penting namun tak cukup untuk menghangatkan manusia-manusia di bumi pertiwi.

Indonesia diberkahi berbagai macam kekayaan alam baik di daratan maupun lautan. Tambang emas terbesar di dunia berlokasi di Papua dikuasai perusahaan asing, Blok Natuna yang menyimpan cadangan gas alam besar sebagian besar dikelola oleh perusahaan asing dan sebagian besar hasil gas tersebut langsung dijual kepada negara tetangga untuk menyalakan listrik negara pulau kecil tersebut. Ironi memang, negara kita kaya sumber daya alam namun sektor minyak dan gas dikuasai 90 persen perusahaan asing, sektor perikanan diwarnai banyaknya pencurian ikan oleh nelayan asing, sektor pertanian, perternakan dan perdagangan bahkan susah untuk bersaing dalam negeri sendiri.

Penjajahan yang terjadi bukanlah kolonialisme lagi namun di era modernisasi ini yang marak terjadi adalah penjajahan secara tak langsung, penjajahan akibat arus globalisasi dan penjajahan kerakusan individu atau golongan tertentu. Kita lihat sekarang bagaimana arus mobilisasi (globalisasi) telah mulai melunturkan tradisi bangsa dan hanya golongan tertentu yang menikmati kapital potensi bangsa ini. Kota-kota besar atau metropolitan seperti Jakarta, Surabaya, Medan, Makassar dll. diisikan produk-produk asing, produk lokal sudah kalah bersaing, gaya hidup kawula muda cenderung kebaratan. Perubahan memang penting, tidak mungkin suatu bangsa stagnan dan diam di tempat, namun kita harus berhati-hati dalam penyerap dan menerapkan suatu perubahan demi kemajuan bangsa.

Identitas berbangsa dan bernegara Indonesia tetap penting dipertahankan. Apakah kita ingin melihat lagi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia lepas seperti pada tahun 1999? Mempertahankan jati diri bangsa dapat diteguhkan dengan menerapkan empat pilar kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari. Empat pilar tersebut yaitu, UUD 45, Pancasila, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika . Jika tidak berhati-hati maka bisa saja NKRI terbelah menjadi Negara Sumatra, Negara Jawa, Negara Kalimantan, dll atau peradaban budaya Indonesia punah dan tergantikan oleh peradaban asing.

Sebagai pelajar yang melanjutkan belajar di luar negeri sangatlah rentan terhadap pengaruh dan budaya asing kerena langsung berinteraksi dengan budaya asing. Pelajar Indonesia harus tetap mempertahankan budaya dan rasa bangga akan tanah air. Di berbagai situs media sosial, saya melihat banyak teman-teman pelajar Indonesia yang belajar di luar negeri, selalu mengeluhkan tentang bobroknya negeri kita, membesarkan-besarkan/membandingkan kemajuan negara lain dengan NKRI, seakan-akan mereka lebih bangga sama negara tempatnya belajar dan menjelek-jelekkan bangsa sendiri. Sifat kritis itu memang penting namun jangan sampai memudarkan rasa bangga dan cinta terhadap tanah air.

Kita, pelajar  Indonesia di luar negeri, berperan dalam mewujudkan cita-cita kebangkitan dari ketertinggalan, dan kebangkitan dari kebodohan. Berawal dari dua cita-cita ini maka cita-cita lainnya dapat tercapai. Kita juga adalah duta-duta kebudayaan Indonesia di dunia, duta-duta kebanggaan bangsa yang menunjukkan kepada seluruh dunia bahwa Indonesia bukanlah negara terbelakang. Walaupun kita tinggal di luar negeri bukan berarti kita tidak berperan untuk Indonesia. Semua perilaku dan tingkah laku kita dapat mempengaruhi citra tanah air kita.  Jagalah semangat kesatuan dan persatuan Indonesia di luar.

Bangsa yang maju peradabannya adalah bangsa yang memiliki ilmu pengetahuan yang besar. Ilmu pengetahuan itu tersebar di seluruh dunia. Lihatlah dunia, seraplah ilmu pengetahuan yang banyak, namun jangan lupa untuk melihat kembali ke tanah air. Jika bangsa lain mencuri kapital di Indonesia maka pelajar Indonesia curilah ilmu pengetahuan bangsa lain! Untuk membangun dan membangkitkan Negara Kesatuan Republik Indonesia!

Boedi Oetomo bisa terbentuk karena kaum-kaum terpelajar yang bersatu. Semua permasalahan bangsa saat ini bisa diselesaikan melalui persatuan dan kesatuan. Saatnya kaum pelajar Indonesia di seluruh dunia bersatu demi kebangkitan nasional.

 

 

Referensi:

www.kebangkitan-nasional.or.id

www.infonews.web.id

(Image source: www.kebangkitan-nasional.or.id)

Tags: ,

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>


6 × = forty two