Kuliah di Hamburg, Jerman Melalui Program JEMES CiSu

Posted by & filed under Headlines, Info/Study, News, People.

Gilang Hardadi

“But what truly distinguishes their histories is not their extraordinary talent but their extraordinary opportunities. Without Hamburg, the Beatles might well have taken a different path.” – Outliers, Malcolm Gladwell.

Saya Gilang Hardadi, mahasiswa program master Erasmus Mundus: Joint European Master in Environmental Studies – Cities and Sustainability (JEMES CiSu). Saat ini, saya sedang menjalani kuliah semester dua saya di TUHH Hamburg, Jerman setelah sebelumnya berkuliah di UAB Barcelona, Spanyol. Di semester kedua dengan fokus environmental technology, saya memilih TUHH sebagai tempat studi saya sebab selain kurikulumnya yang sesuai dengan minat saya, Jerman juga terkenal reputasinya dalam studi di bidang engineering.

TUHH sebagai pilihan saya menempuh studi terbukti tepat. Keunggulan Jerman di bidang lingkungan tidak hanya pada studi di universitas, tetapi juga implementasinya. Udara yang selalu segar meski di pusat kota, air keran yang dapat langsung diminum, pemilahan sampah domestik, dan sistem penukaran botol bekas minuman dengan uang (pfand) untuk memudahkan proses reuse dan recycling merupakan contoh sehari-hari bahwa Jerman berkomitmen dalam bidang lingkungan.

Hal pertama yang saya anggap unik selama studi di TUHH adalah kebiasaan mengetuk meja setelah perkuliahan atau presentasi selesai. Ternyata, mengetuk meja adalah tradisi akademik Jerman untuk memberikan applause, semacam tepuk tangan di Indonesia. Perkuliahan di Jerman terbagi dalam dua modul, Vorlesung (Lecture) dan POL (Problemorientierte Lehrveranstaltung, atau dikenal sebagai Problem-Based Learning). Dalam Vorlesung, perkuliahan sama seperti layaknya di Indonesia. Dosen memberikan materi secara satu arah, meskipun mahasiswa dapat bertanya di tengah perkuliahan. Sementara dalam POL, mentor (biasanya mahasiswa PhD atau lulusan Master) memberikan suatu studi kasus untuk dipecahkan dan memfasilitasi diskusi bagi mahasiswa. Mahasiswa kemudian mempresentasikan hasil diskusi mereka di depan kelas. Sedikit berbeda dibandingkan aktivitas perkuliahan di Spanyol yang tidak membedakan kedua modul tersebut dan lebih dinamis.

Di TUHH, atmosfer perkuliahan terasa sangat internasional dengan beragamnya negara asal mahasiswa dan kuliah yang ditawarkan dalam bahasa Inggris. Mayoritas mahasiswa internasional berasal dari China dan India, dan ada pula beberapa mahasiswa Erasmus exchange dari Prancis dan Spanyol. Keberagaman ini terkadang bisa membuat konflik dalam tugas berkelompok akibat perbedaan kultur. Mahasiswa dari China dan Asia Tenggara cenderung menganut ilmu padi, sehingga mereka lebih suka bekerja dalam diam. Mahasiswa dari India lebih aktif dalam berpendapat, sehingga terkadang dimisintepretasikan sebagai sok mengatur saat bekerja kelompok. Sementara mahasiswa asli Jerman cenderung efektif dan efisien. Mereka ingin dalam meeting yang singkat semua tugas selesai didistribusikan dalam kelompok, untuk kemudian digabungkan dan difinalisasi dalam meeting selanjutnya. Perbedaan cara kerja inilah yang harus kita pahami untuk menghindari konflik.

Metode penilaian di Jerman pun berbeda dengan di Indonesia. Terkadang penilaian tidak berupa ujian tertulis saja, tetapi presentasi, penulisan report atau paper, atau ujian oral. Bahkan, beberapa kuliah saya tidak ada ujian tertulis, sehingga penilaian murni dari hasil presentasi atau penulisan report. Hal ini membuat mahasiswa mengerjakan tugas-tugasnya dengan sungguh-sungguh, tidak hanya CTRL-C dan CTRL-V alias copy dan paste saja, hehehehe… Apalagi tugasnya selalu berganti setiap tahun.

Selain pembelajaran di kelas, Bibliothek (perpustakaan) juga merupakan tempat belajar yang nyaman. Di sini, fasilitas internet yang kencang dan suasana yang nyaman membuat Bibliothek menjadi tujuan mahasiswa mengerjakan tugas maupun berdiskusi. Hal ini membuat saya betah berlama-lama di Bibliothek. Pernah suatu hari, saya baru keluar dari Bibliothek pada jam 9 malam! Hal yang tidak pernah saya alami selama perkuliahan saya sebelumnya.

Terdapat kesamaan antara apa yang dapat ditawarkan oleh Hamburg kepada saya dan the Beatles: extraordinary opportunities. Apabila Hamburg memberikan the Beatles kesempatan meningkatkan jam terbang mereka di Reeperbahn (semacam Red Light District-nya Hamburg) sebelum terkenal seperti sekarang ini, maka melalui berkuliah di TUHH saya berkesempatan langsung belajar dari praktisi-praktisi di bidang lingkungan.

Di kuliah Waste to Energy misalnya, saya dan teman-teman berkesempatan belajar langsung dari Stadtreinigung Hamburg (SRH), perusahaan pengelola sampah lokal di Hamburg. Kami mengunjungi area landfill dan power generating di Energieberg Georgswerder, Hamburg, dan melakukan presentasi fermentation plant design di hadapan Board of Directors SRH. Astaga, saya jadi ekstra nervous. Mana pakaian saya waktu itu agak casual dengan kemeja lengan pendek pula, sementara para penilai kami mengenakan jas formal. Syukurlah, mereka lebih terfokus dengan konten presentasi dibandingkan penampilan kami dan presentasi berjalan lancar.

Di kuliah Waste Recycling Technology, kami melangsungkan praktek pemilahan sampah elektronik (e-waste), juga langsung di lokasi kerja SRH. Seharian penuh dalam safety coat, kami memilah e-waste ke dalam beberapa kategori dan menimbang e-waste tersebut untuk mengetahui persentase profil e-waste di Hamburg. Ternyata, pengalaman tahun lalu ada sex toys yang dibuang di SRH lho. Jadilah team sorting kebingungan untuk mengklasifikasikan barang tersebut. Hihihihi…

Ekskursi yang paling seru adalah kunjungan ke Ecovillage di Steyerberg untuk kuliah Ecological Town Design. Di sana, kami melakukan banyak aktivitas menarik. Kami mengobservasi sistem permaculture sebagai metode pertanian di Steyerberg untuk memenuhi 100% kebutuhan pangan warganya. Makan siang kami pun seluruhnya dibuat dari hasil pertanian lokal Steyerberg. Kami juga melihat langsung Ecohouse dengan material kayu, dan sistem pengadaan energi perumahan menggunakan Photovoltaic panel. Tidak hanya itu, kami juga berkesempatan ikut menari bersama penduduk lokal sebagai bentuk penghormatan mereka terhadap Mother Earth.

Energieberg Georgswerder

(1) Kunjungan ke Energieberg Georgswerder, (2) Tarian penghormatan terhadap Mother Earth, (3) Diskusi dengan Jean-Philippe, petani permaculture di Steyerberg, (4) Sorting e-waste di SRH

Perkuliahan saya berakhir di bulan Juli, dan ujian akan berlangsung hingga awal Agustus. Barulah September saya memulai semester ketiga saya di Aalborg, Denmark. Oh, saya sebetulnya ingin sekali melanjutkan sisa kegiatan kuliah saya di Hamburg hingga Thesis Defense. Apa daya, spesialisasi bidang yang lebih sesuai dengan saya tidak ditawarkan di TUHH… Meskipun demikian, apabila kamu tertarik menekuni teknologi lingkungan ataupun proses pengelolaan air dan limbah, saya sangat merekomendasikan TUHH sebagai tempat berkuliah kamu!

 

Gilang Hardadi adalah mahasiswa master program JEMES CiSu (Joint European Master in Environmental Studies) tahun 2014-2016 melalui beasiswa Erasmus Mundus. Selain industrial ecology dan sustainable development, Gilang juga menekuni bidang menulis dan traveling.

Tags: , , , , , , ,

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>


× nine = 36